Tampilkan postingan dengan label Inpiration Words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inpiration Words. Tampilkan semua postingan
Labels:

KISAH NYATA : Perjuangan Gadis Kecil Yu Yuan dan Dana sebesar 540rb USD

Anak ini rela melepasakan pengobatannya, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. 
Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu.
Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.
Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.
Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.
Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. 
Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain.
Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya.
Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.
Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya.
Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah.
Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya.
Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.
Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000.
Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.
Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata yang belum sempat terlontar, "Papa saya ingin mati!"
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?"
"Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."
Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.
Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.
Yu Yuan berkata kepada papanya, "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini."
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.
Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum.
Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.
Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng.
Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.
Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.
Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.
Ada seorang teman di email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."
Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup.
Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring diranjang untuk diinfus.
Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.
Pada saat pertamakali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata.
Yu Yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik."
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut.
Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orangpun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.
Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, "Bibi kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?" Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.
Wartawan tersebut menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik hati." Yu Yuan kemudian berkata, "Bibi saya juga mau menjadi orang yang baik hati." Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik."
Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Bibi ini adalah surat wasiat saya."
Fu yuan kaget sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, Bibi Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal Bibi Fu Yuan.
Dalam surat itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat Bibi wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal.
"Tolong . . . "
Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.
"Sampai jumpa bibi, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga kepada pemimpin palang merah.
"Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh." Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.
"Saya pernah datang, saya sangat patuh," demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.
Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan dipencernaan Yu Yuan semakin parah.
Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air, sungguh telah pergi kedunia lain.
Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk "setinggi gunung".
Ada seorang pemuda berkata dengan pelan, "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah . . ."
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya.
Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Di atas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh (30 nov 1996 - 22 agus 2005)".
Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. "Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu."
Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie.
Tujuh anak kecil yang menderita ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.
Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut.
"Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata, Aku pernah datang dan aku sangat patuh."
Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat Dunia.
Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan.
Semoga kisah ini menginspirasi Anda. Silahkan LIKE dan SHARE ke teman kita ya..

0 comments
Labels:

Dianggap Perempuan Terjelek Dunia, Lizzie Velasquez Justru Percaya Diri!

Lizzie Velasquez (tengah) bersama keluargaBagi banyak perempuan, lemak selalu menjadi musuh besar, apalagi untuk yang mendambakan bentuk tubuh sempurna. Kamu salah satunya? Teruskan membaca kisah ini, dan bersyukurlah karena masih bisa menjadi gemuk.

Nama gadis asal Texas ini Lizzie Velasquez. Umurnya 23 tahun, tapi bobotnya tak lebih dari 30 kg dengan tinggi badan 150 cm. Terlihat tak proporsional? Ya, dia lahir tanpa jaringan adiposa, sehingga tubuhnya sama sekali tidak bisa menyimpan lemak. Dia pun harus ikhlas ketika orang-orang menganggapnya perempuan terjelek di dunia.
Berat badan Lizzie tak akan pernah naik walaupun mengonsumsi banyak makanan berlemak. Bahkan, per hari 5000 sampai 8000 kalori dilahapnya. Berlebihan menurutmu? Tidak untuk Lizzie, karena hanya dengan cara itulah dia dapat bertahan hidup. Karena tubuhnya tak bisa menyimpan cadangan makanan, Lizzie harus makan tiap 15 menit agar memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
Profesor Abhimanyu Garg, peneliti University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas, menduga Lizzie menderita Neonatal Progeroid Syndrome, penyakit sangat langka yang melenyapkan lemak di wajah dan tubuh, sehingga menyebabkan penuaan dini bagi penderitanya. Sejauh ini pun hanya ada tiga kasus di dunia, dan Lizzie salah satunya.

Lizzie memang memiliki kekurangan secara fisik, tapi orangtuanya selalu menanamkan kalau dirinya sama dengan anak-anak lain, punya hak yang sama pula walaupun lingkungan sekitar tak menganggap Lizzie normal. Itulah yang membuat Lizzie kuat. Dia tercatat sebagai mahasiswi di Jurusan Komunikasi Texas State University dan aktif sebagai guru sekolah minggu, juga termasuk dalam tim pemandu sorak. Lizzie bahkan merasa puas dengan keadaannya sekarang dan tak ingin mengubah takdir. Dia menerima kekurangannya dan pantang berkeluh kesah, malah berusaha hidup normal dan tetap bahagia.
Bentuk ucapan syukur sekaligus semangat Lizzie tertuang dalam sebuah buku tentang perjuangannya untuk bisa diterima di masyarakat, Be Beautiful, Be You, yang menginspirasi banyak orang. Kita tak akan pernah bisa menjadi sempurna, menurut Lizzie, karena itu yang bisa dilakukan adalah menjadi yang paling unik. Itu pula yang dirinya lakukan selama 23 tahun ini. Lizzie bahkan tak canggung berbagi pengalamannya menghadapi bullying yang menyakitkan, tapi benar-benar dialaminya.
Kita dengan mudah mengeluh saat tubuh menggemuk atau menemukan kerutan kecil di wajah. Namun, bagaimana dengan Lizzie? Tubuh kurus dan keriput sama sekali tak menjadi masalah, padahal dia sangat tahu bentuk fisiknya tak akan pernah membaik. Dia kehilangan kesempatan merasakan ribetnya berdiet atau melakukan perawatan kecantikan untuk mempertahankan kulit mulus, tapi Lizzie bahagia.
Semua hanya soal dari sisi mana, negatif atau positif, kita melihat diri sendiri. Kekurangan fisiknya permanen, tapi kebesaran hati dan semangatnya bisa menginspirasi perempuan mana pun untuk selalu percaya diri dan optimis. Dan, satu hal yang terpenting, fisik bukan patokan kebahagiaan, karena bahagia adalah bentuk rasa nyaman atas diri sendiri. Lagipula, being happy doesn't mean that everything is perfect. It means you've decided to look beyond the imperfections.



SUMBER

0 comments
Labels:

Professor Bodoh yang Sombong

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, ‘Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?’.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ‘Betul, Dia yang menciptakan semuanya’.
‘Tuhan menciptakan semuanya?’
Tanya professor sekali lagi.

‘Ya, Pak, semuanya’ kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, ‘Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.’
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ‘Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?’
‘Tentu saja,’ jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ‘Profesor, apakah dingin itu ada?’
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?’ Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, ‘Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.
Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, ‘Profesor, apakah gelap itu ada?’
Profesor itu menjawab, ‘Tentu saja itu ada.’
Mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi anda salah Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.’
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, ‘Profesor, apakah kejahatan itu ada?’
Dengan bimbang professor itu menjawab, ‘Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.’
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, ‘kejahatan’ adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.’
Profesor itu terdiam.


Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


SUMBER 

0 comments
Labels:

Kisah Mak Tun, Wanita Sebatang Kara Pelindung Anjing di Kolong Jembatan

Namanya Sri Susanti (55). Usianya sudah cukup renta dan tinggal di kolong jembatan. Hidupnya pun sebatang kara. Namun dia tak pernah merasa miskin. Ada belasan anjing yang selalu menjaganya.

Mak Tun, begitu Sri biasa disapa. Sejak kecil, dia sudah tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Mak Tun sempat memiliki usaha warung saat orang tuanya wafat, namun kini hilang akibat tergusur pembangunan kanal kota. Sahabat Mak Tun hanya anjing-anjingnya.

Kisah Mak Tun dan anjing berawal dari tahun 2010. Kala itu, dia kesepian karena tak punya saudara kandung atau kerabat. Lalu dia merawat dua anjing sebagai teman. Satu diberi nama Edo (jantan) dan Belang (betina). Semakin lama, anjingnya beranak pinak hingga total berjumlah 20 anjing. Tapi, tak semua bisa bertahan hidup. Hanya tersisa 14 anjing.

"Setengah bulan yang lalu, 5 anak anjing baru terlahir. Satu ekor meninggal dengan tragis, tercebur ke sungai dan tenggelam saat Mak Tun pergi memasak nasi di bawah jembatan lain dan tidak bisa mengawasi bayi-bayi anjing tersebut," cerita aktivis pecinta hewan yang menolong Mak Tun, Rachma, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (27/3/2013).

Sejak warungnya dirobohkan pada 2010 lalu, Mak Tun jadi tak memiliki penghasilan. Uang yang diperoleh dari memulung tak bisa untuk biaya makan anjing-anjingnya. Karena itu, dia perlu bantuan segera.

"Akhirnya beliau tinggal di kolong jembatan besar dengan ke-14 anjingnya," terang Rachma.

Namun di kolong jembatan besar itu, Mak Tun mendapat penolakan dari warga lain. Anjing-anjingnya dianggap mengganggu. Banyak warga memintanya untuk menjual anjing tersebut, namun Mak Tun menolak. Baginya, anjing-anjing itu adalah sahabat.

Karena terusir, Mak Tun pun pindah ke kolong jembatan yang lebih kecil. Di lokasi baru itu, hanya ada jalur pijakan sempit. Bila hujan dan petugas lupa menutup pintu air, maka air bisa menggerus 'rumah' Mak Tun. Tak jarang, wanita paruh baya itu harus berdiri merapat ke tembok sepanjang malam sambil menggendong 4 bayi anjing.

"Risiko besar terpeleset dan tercebur ke arus harus dihadapi dengan tabah," cerita Rachma.

Saat ditemui detikcom di kolong jembatan kawasan Pusponjolo, Semarang, Mak Tun terlihat sibuk bersiap memberi makan anjingnya. Berkaos hijau, dia tampak bahagia saat memberi makan anjing yang dianggapnya sebagai anak. Padahal makanan yang diberikan adalah sisa-sisa nasi yang dipungutnya di jalanan.

"Saya sayang sekali sama mereka, mereka yang menemani saya. Saya hidup sendiri sama anjing-anjing ini," cerita Mak Tun.



SUMBER 


Hikmah yang dapat diambil dari crt di atas: "Selalu mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala keadaan/situasi"

yang ada di pikiran blogger sekarang ini adalah, blogger sangat bersyukur dengan keadaan hidup blogger sekarang. dulu...duluuuuuuu bgt blogger sering iri sama temen krn dia menurut pandangan blogger selalu beruntung, selalu mendapatkan semua hal yang blogger pengen :">
Tapi sekarang, apa lagi setelah membaca kisah Mak Tun di atas, blogger jadi malu.... dan blogger jadi bisa beryukur atas berkat dan anugerah yang Tuhan sudah kasih sama blogger selama ini.
Blogger masih bisa tidur di atas kasur yang empuk walaupun kecil, pas sama badan :D hehehhe
kalau hujan ga kehujanan (kecuali klo genteng lagi bocor :p) , dan panas ga kepanasan (kecuali kalau mati lampu dan ga ada angin sama sekali :p)
dan yang paling utama adalah blogger ga kebanjiran dan ga perlu berdiri nunggu sampai ari surut.

Semoga para pembaca yang membaca artikel "Kisah Mak Tun" di atas, siapapun itu (berharap bgt bpk2 dan ibu DPR, menteri bahkan presiden :P) tergerak hatinya :)
di Indonesia ini masih banyak bgt saudara2 kita yang berkekurangan dan kurang di perhatikan dan butuh bantuan.
kyknya dulu ada deh dana untuk rakyat miskin gtu, tp melihat kondisi pemerintahan skr ini, sptnya itu duit masuk kantong masing2 (*ups*)


sebagi penutup, blogger hanya bisa mendoakan semoga Mak Tun segera mendapat tempat tinggal yang layak untuk dirinya dan juga untuk para sahabatnya :). Amien...

0 comments
Labels:

The Seven Gift of The Holy Spirit

Wisdom - this helps us to bear our burdens in life to treat our sisters and brothers with patience and charity and to see the world in light of our Faith;

Understanding - this gift allows us to see the world and our life in it within God's law and our soul's relation to God.  Essentially it enables us to grasp, in a limited way, the essence of the truths of the Catholic Faith;

Counsel - the fit that instantly enlightens us to know what to do and how to act correctly in time of trouble and trail for the glory of God and our salvation;

Fortitude - is the strength to arise above adversity and cultivate virtues beyond the basic requirements of Christianity;

Knowledge - gives us the ability to judge and discern between the will of God and the temptations offered by the devil;

Piety - "a supernatural communication conferred by the Holy Spirit" (Fr. John Hardon, S.J., Modern Catholic Dictionary) that instills in us to do what is pleasing to God and to those who serve him;

Fear of the Lord - this is akin to our respect for our parents and our desire to please and not to offend them.  It is not to be frightened but to want to please God, be one with him and be holy.


SUMBER 

0 comments
Labels:

Kisah Bai Fang Li, Tukang Becak Paling Mulia



Kisah Bai Fang Li ini saya harap menjadi pelajaran hidup bagi kita semua untuk saling membantu sesama kita yang kesusahan, walaupun hidup serba pas-pasan tetapi tetap membantu orang tanpa pamrih

Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.
Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.
Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Tersentuh
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.
Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.
Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Tak Menuntut Apapun
Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan. 
 




Rest In Peace Granpa Bai Fang Li :)


0 comments
Labels:

Kepada Engkau Yang Sedang Gelisah

Kepada Engkau Yang Sedang Gelisah
Wahai hati yang sedang gelisah,
apakah yang sedang kau gelisahkan?
Bila engkau belum tahu pasti apa yang menggelisahkan mu,
bagaimana mungkin engkau bisa merasa gelisah?
Sebetulnya, apakah yang sedang kau gelisahkan?
…
Ketahuilah bahwa penderitaan yang paling menyiksa mu,
adalah penderitaan yang tidak pernah datang,
tetapi yang kau ijinkan tumbuh
dalam kekhawatiran- kekhawatiran mu.
Bila kekurangan yang kau rasakan,
mengalahkan nilai dari keberuntungan
yang telah ada pada mu,
maka kegelisahan itu adalah candu bagi pikiran mu.
Kegelisahan yang mencandui mu itu berawal
dari serat-serat sarang laba-laba
dalam angan-angan mu,
yang kemudian kau ijinkan menguat, menajam,
dan mengiris permukaan hati mu yang peka.
Kegelisahan mu akan memotong dan melubangi hati mu,
yang kemudian mengalirkan kecerdasan
dan ketahanan hati mu
ke parit-parit penyia-nyiaan sari kehidupan.
Maka selamatkanlah kecerdasan mu.
lindungilah kecemerlangan hati dan pikiran mu.
dan menangkanlah sari-sari kehidupan dalam diri mu.
Karena sebetulnya,
bila engkau mengerti
kegelisahan adalah mabuknya orang
yang sedang berada di depan penawaran-penawaran besar
bagi kemungkinan- kemungkinan
yang bisa ia capai sebagai pribadi yang mandiri.
Siapa kah di antara mu yang tidak akan tegang
dan gelisah menantikan terbukanya tabir penutup
hadiah besar bagi mu,
untuk sikap, pikiran, dan tindakan mu yang mulia?
Bila yang kau nantikan adalah hadiah
bagi pemuliaan diri mu,
maka itu sama sekali bukanlah kegelisahan
yang mengerdilkan,
tetapi tarian kegembiraan hati mu.
Bila engkau belum memuliakan diri mu sendiri,
maka kegelisahan mu adalah ronta dari keinginan hati mu
untuk membayar penundaan dan pengabaian
dari yang seharusnya sudah kau lakukan.
Engkau adalah jiwa yang dilahirkan mulia,
maka semua kegelisahan mu
adalah upaya hati mu untuk mengembalikan kemuliaan
yang telah menjadi bakat kelahiran mu.
Maka bertindaklah.
Janganlah engkau membatasi kebaikan
yang akan kau lakukan
hanya karena kemungkinan kegagalan,
karena dengannya
kau seperti berupaya membatalkan
sifat Tuhan mu Yang Maha Melindungi,
bagi kerugian mu sendiri.
Itu sebabnya
kau diperintahkan untuk membaca semua tanda,
baik tanda yang akan memuliakan mu,
yang akan menggagalkan mu, dan tanda bagi mu
untuk mencoba lagi dengan lebih berpikir.
Engkau hanya boleh membatasi yang akan kau lakukan
bila ia belum jujur, tidak adil, dan tidak memuliakan.
Janganlah jadikan kemungkinan kecewa mu
sebagai penghambat kerja mu.
Ketahuilah bahwa kegelisahan dalam penundaan
karena rasa takut akan kekecewaan –
adalah perasaan yang lebih buruk
daripada kekecewaan yang sebenarnya.
Kegelisahan mu lebih menyiksa
daripada kekecewaan mu.
Alam menciptakan mu kuat, ... kuat sekali,
tetapi
alam tidak menciptakan mu cukup kuat
untuk secara sekaligus menggembalakan
penyesalan-penyesal an masa lalu mu,
menyelesaikan tugas-tugas mu hari ini,
dan membesarkan kekhawatiran- kekhawatiran mu
di masa depan.
Itu sebabnya alam memberi mu kecerdasan
untuk mendahulukan yang seharusnya kau dahulukan,
dan meninggalkan yang seharusnya kau tinggalkan.
Hanya dengannya engkau akan disebut bijak,
karena kebijakan adalah kecerdasan
dalam mengutamakan yang baik.
Engkau berhak untuk bergembira.
Engkau berwenang untuk merajut kegembiraan mu
menjadi permadani kebahagiaan mu.
Janganlah kau gunakan kegelisahan yang maya itu
untuk menggantikan hak nyata mu
untuk berbahagia.
Janganlah engkau membatalkan yang mungkin bagi mu
dengan kegemaran mu mendahulukan kekhawatiran
tentang yang hanya akan terjadi
bila kau menghindari kebijakan.
Janganlah engkau bertahan berbaring di dalam bayangan
dan mengeluhkan kurangnya cahaya di atas kepala mu.
Bangunlah, dan melangkahlah ke luar
dan temuilah cahaya dari pengertian-pengerti an baik
yang telah mencerahkan
saudara-saudara mu
bahkan jauh sebelum kelahiran mu.
Majulah dan perbaikilah sudut pandang mu,
agar lebih mungkin bagi mu
untuk melihat masa depan yang lebih cerah.
Berdamailah dengan keadaan mu,
karena apa pun keadaan mu sekarang
adalah keadaan dari mana engkau
akan mencapai semua kecemerlangan mu.
Engkau akan membatalkan perjalanan mu
mendaki tempat-tempat yang naik,
bila engkau menolak menggunakan tanah yang rendah
sebagai pijakan awal mu.
Pencerahan adalah penerimaan yang ikhlas
tentang yang benar.
Bila engkau tidak menemukan jalan keluar
dalam kegelisahan mu,
maka berpalinglah engkau
kepada pengertian yang benar;
karena pencerahan mu
adalah penerimaan mu yang ikhlas
tentang yang benar.
Dan
bila engkau telah ikhlas dengan yang benar,
engkau akan mampu mendengar keheningan
dalam kebisingan,
dan
engkau akan melihat sinar
dalam kegelapan.
...
Bila cinta mu kepada kemuliaan
membuat mu bimbang dan bertanya
apakah engkau akan ditemukan,
dan
apakah engkau akan dicari,
dengarkanlah ini.
Engkau yang meninggikan akan ditinggikan,
engkau yang membesarkan akan dibesarkan.
Maka
bila engkau menemukan bagi saudara mu
yang belum menemukan,
engkau akan ditemukan;
bila engkau mencarikan bagi saudara mu
yang sulit mencari,
engkau akan dicari.
Bila Tuhan mu adalah keyakinan mu,
maka Tuhan mu adalah dasar dari semua keyakinan mu.
Ini aku katakan kepada mu
agar engkau mengingat
bahwa keraguan mu tidak boleh mendekati
pelemahan keyakinan mu kepada Beliau.
Demikian besar kah kesusahan mu
sehingga engkau mengecilkan nilai Tuhan mu bagi mu?
Beliau,
Tuhan mu Yang Maha Pengasih,
menunggu mu
agar engkau datang bermanja-manja kepada-Nya
meminta maaf karena keraguan mu,
mengembalikan kesadaran mu
kedalam kasih sayang Beliau.
Beliau ingin mendengar mu berjanji lagi
dengan meminjam kesungguhan
dari janji mu yang terakhir,
bahwa engkau tidak akan lupa lagi,
bahwa apa pun yang terjadi
adalah untuk kebaikan mu.
Mintalah pengertian Beliau
agar Beliau bersabar
dan tetap mencintai mu
dengan naik dan turun hati mu,
karena engkau sedang belajar
untuk selalu memperbarui iman mu.
Katakanlah bahwa engkau telah mengerti
bahwa semua upaya dan hasil mu tidak penting
bila dalam pencapaiannya
engkau menjauh dari-Nya.
Berjanjilah kepada Tuhan mu,
bahwa dalam keraguan mu yang akan datang,
engkau akan menjaga diri mu
bermanja-manja dekat dengan-Nya;
karena engkau tahu
bahwa bila Beliau berkenan
tidak ada yang tidak akan Beliau berikan
kepada mu,
meskipun apa pun,
karena
engkau adalah kekasih Tuhan.
Bila Beliau berkenan.
Seberapa jauh pun perjalanan mu,
engkau akan sampai bila engkau dekat dengan-Nya.
Seberapa sulit pun pencarian mu,
engkau akan menemukan
bila engkau mencari.
Seberapa jauh pun engkau hilang,
engkau akan dicari dan ditemukan
bila engkau mencarikan jalan
bagi saudara mu yang kehilangan jalan.
Maka bila kegelisahan datang lagi kepada mu,
sambutlah ia dengan penghormatan bagai kepada tamu
yang membutuhkan pengertian baik.
Sesungguhnya,
kegelisahan mu hanyalah kekuatan mu
yang sedang kebingungan.
Maka, damaikanlah diri mu.
Pulihkanlah jiwa mu
kepada keindahan asli mu.
Keindahan jiwa mu
adalah sumber dari semua kekuatan mu.


( Mario Teguh - Kepada Engkau Yang Sedang Gelisah )

0 comments
Labels:

Some one who we loved

Jangan pernah pikirkan,
Kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai,
Tapi cintalah yang memilih kita
Untuk mencintainya

Karena.....
Kita ada didunia ini bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai,
Tetapi untuk belajar mencintai orang
Yang tidak sempurna...dengan cara yang Sempurna

.....dan cinta bukanlah perkara menjadi orang sempurna
justru perkara menemukan,
Seseorang yang menjadikan dirimu sempurna

0 comments
 
Berbagi Cerita © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters